Jumat, 03 September 2010

what makes a man [Part 2]

~ min ra PoV ~

Aku memikirkan kejadian tadi sore sambil memainkan cincin pemberian kwanghee. “apa yang harus aku lakukan ?” aku tertunduk bingung. “wae nal dugo neo byeonhaneun geoya. Tteonaneungeoni. wae nat tteugeowo jjillineun geoya. Mwolboneungeoni. gwaenhan mallo neo mworaneun geoya. Tteoboneungeoni. wae neon goerowo pihaneungeoya. Ibyeoringeoni.” Hapeku bergetar. “yoboseyo ?” tanya orang itu. “nde nuguseyo ?” tanyaku. “min ra ah. Ini nomor hape ku yang baru. Aku taecyeon.” Mendengar nama itu aku langsung kaget. “jeongmalyo ?” “apa kau gak ngenalin suara kekasihmu ini ? sungguh ironis” “anio. Bukan seperti itu. Pikiranku sedang kacau. Kacau sekali. Ugh aku pusing. Banyak masalah akhir” ini” sambarku tanpa jeda. “ah mau bertemu ? aku bisa manjat ke kamarmu sekarang” jawabnya jail. “ah jeongmalyo ? kamu manjat ? ya !! kamu pikir kamu ada dimana sekarang ?” aku protes. “kamu mau tau ? aku ada dibawah kamarmu. Coba kamu liat keluar jendela” aku melongok keluar jedela. Dan tepat. Aku melihat muka tengilnya. Oh tuhan apa yang harus aku lakukan

Tak butuh waktu yang lama buat taec untuk memanjat pohon mangga yang ada didekat jendela kamarku. “kamu merindukanku ?” tanya menggodaku. “ah pastinya.” Aku meletakkan kepalaku di dada bidangnya. “ugh aku selalu sebal melihat fotomu dan kwanghee !! aku sebal” diapun membalikan fotoku dan kwanghee. Aneh bukan ? dia sudah tau aku sudah mempunyai kwanghee masih nekat memacariku. “ah mianhae” aku menggati fotonya dengan foto ku bersama taec. “apa ini ? cincin ? dari siapa ?” dia mengambil cincin pemberian kwanghee yang tergeletak di meja laptopku. “ah itu. Kwanghee memberikannya tadi siang.” Jawabku jujur. Aku tidak mau berbohong pada taec.

~ taecyeon PoV ~

Ah apa apaan ini ? mengapa si kwanghee itu duluan memberinya cincin ? yah aku tahu dia bukan milikku seutuhnya. Tapi itu semua membuatku jengkel. “min ra, sampai kapan kita kayak gini ?” aku memegang tangannya. “aku lelah” tambahku. “aku gak tau. Aku belom cukup yakin atas semuanya.” Aku tau dia pasti bingung. Salahku juga yang sudah membuatnya memberikan separuh hatinya kepadaku. Ah aku begitu bodoh. Harusnya aku menyimpannya saja. Bukan hanya aku dan min ra yang sakit pastinya kwanghee jika mengetahui ini akan sakit dan meminta putus sama min ra. Aku ikutan pusing. “ah kamu mau minum apa jagi ?” ujar min ra lembut. “apa sajalah asal bisa diminum” aku melihatnya keluar kamar.

“taec ini minumnya” dia berteriak di lorong kamarnya. “ah makasih. Hati” jatuh kamu jagi” dan benar aja, dia tersandung karpet kamarnya sendiri. GUBRAK ~ “aduuuh sakit” aku membantu min ra berdiri. “pabo ! aku udah bilang hati” tambeng amat dibilangin.” Ujarku seraya menggetok palanya min ra. “ah arra !! untung aku bawanya botolan jadi gatumpah.” Diapun memeletkan lidahnya. Lucu ~ dia lucu sekali saat memeletkan lidahnya itu.

~ min ra PoV ~

“Ah sial pake jatoh segala sih. Heran dah tuh karpet pake nyelengkat segala” aku terus menggerutu didalam hati. “kamu lucu banget jagiya !” ujar taec sambil terkekeh. “apa yang lucu huh ?” kataku sebal. “ya muka kamulah. Kamu itu abstrak” ujarnya lagi sambil ketawa lebih keras. “ya suka suka kamu lah aku memang abstrak” aku memeletkan lidahku lagi. Tiba” taec mendekat kearah mukaku. “mau apa kamu ?” tanyaku panik. “ah anio. Hanya mau liat jerawat mu itu” ujarnya sambil mencubit pipiku. “aw sakit !! pabo ~” aku memukul ringan tangannya. Dreet dreet dreet hapeku bergetar diatas laptop kesayanganku. “min ra jagi ~ sedang apa ? ah otakku stuck nih bosan. Masih bangun kan sayang ?” aku membacanya. Ah dari kwanghee pikirku. “jagi ~ aku masih bangun kok. Lagi online aja. Kenapa bisa ?” aku membalas smsnya secepat kilat. “itu sms siapa ?” tanya taec penasaran. “ah mollayo ~ sms nyasar” jawabku enteng. “kalo gitu aku pulang dulu ya jagi ~ besok masuk sekolah oke ? ada pengarahan.” Taec mencium kening ku. “nde arraso ~”

~ kwanghee PoV ~

Ah dia membalas sms ku. Entah mengapa aku ingin sms dia. Ah perasaanku bilang dia lagi sama cwok lain. Ah andwae !! aku gaboleh mikir kayak gitu. Aku percaya dia. Aku percaya dia hanya mencintai aku. “aku bales gak ya smsnya dia ? atau aku telfon dia aja ?” ujarku dalam hati. “Ah ya benar. Aku telfon aja dia” aku pun segera menelpon Min Ra. Tuut tuut tuut. “yoboseyo ?” sapa min ra lembut. “ah jagiya ~ bogoshipo. Jinca !!” sapaku. “kamu dirumah ya jagi ? kita makan keluar aja yuk” ajak min ra. “kamu bisa keluar malam ?” “untuk hari ini aku bisa. Untuk pacarku tercinta apa sih yang tidak” “jeongmalyo ? oke aku jemput kamu 15 menit lagi ya.” “nde. Annyeong” 1 detik kemudian telpon kami pun mati.

~ min ra PoV ~

Aku pun siap” untuk makan malem bareng kwanghee. “pake baju apaan nih ? aduh pusing” aku ngacak” seluruh isi lemari untuk menemukan baju yang cocok. “ah ini aja deh” pikirku. Aku pun langsung dandan secantik mungkin. Tak lupa memakai cincin pemberian kwanghee. Ah sempurna !!

“Teeet teeeet !!” kwanghee membunyikan klakson mobilnya. “nde oppa !! aku turun” aku berpamitan sama umma appa. Utung omma appa lagi baik hari ini. “kamu cantik” ujar kwanghee sambil mencium pipiku. “gomawo oppa” sekilas aku melihat kwanghee memperhatikan ku. “ah dia ganteng dengan setelan jas itu” pikirku. “hey !! ngapeh ngelamun ?” ujar kwanghee menyadarkan ku. “ah anio. Kkaja !!” kataku.



- TBC -

By : Min Ra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar